Senin, 24 Oktober 2016

Persib Bandung


Nama lengkapPersatuan Sepak Bola
Indonesia Bandung
JulukanMaung Bandung
Pangeran Biru
Didirikan14 Maret 1933 (83 tahun lalu)
StadionStadion Gelora Bandung Lautan Api
BandungIndonesia
(Kapasitas: 38.000 personal seat)
Direktur UtamaBendera Indonesia Glenn Sugita
ManajerBendera Indonesia Umuh Muchtar
PelatihBendera Indonesia Djajang Nurjaman
Asisten PelatihBendera Indonesia Herrie Setiawan
LigaIndonesia Soccer Championship


Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga
Sejarah
Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota sepertiYogyakarta dan JatinegaraJakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatanpada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjaksebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. AlexaRd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 50-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 196119861990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 19501959,19661983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama sepertiRisnandar SoendoroNandar IskandarAdeng HudayaHeri KiswantoAjat SudrajatYusuf BachtiarDadang KurniaRobby DarwisBudimanNur'alimYaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib. Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.
Prestasi

Domestik

Liga (kasta Tertinggi)

  • Perserikatan (1931-1994), Divisi Utama (1994-2008) dan Liga Super Indonesia (2008-sekarang):
    • Juara (7): 1937, 1961, 1986, 1990, 1994, 1995, 2014
    • Runner-Up (6): 1933, 1934, 1936, 1950, 1959, 1960, 1982-83, 1984-85

Piala Nasional

  • Piala Indonesia (2005-sekarang):
    • Juara (0):
    • Runner-Up (0):
  • Piala Presiden
    • Juara (1): 2015
  • Lainnya
    • Siliwangi Cup (4)1981198919942000
    • Jusuf Cup (1): 1957
    • Marah Halim Cup (1): 1988
    • Surya Cup (2): 1988
    • Soeratin Cup (2): 20032006

Kejuaran Asia

  • Liga Champions AFC
    • Juara (0):
    • Perempat Final: 1995
  • Piala AFC
    • Juara (0):

Internasional

  • Pesta Sukan (Sultan Brunei Cup)
    • Juara (1): 1986
  • Liga Champions Asia
    • Perempatfinal (1): 1995

Gresik United


Nama lengkapPersegres Gresik United
JulukanLaskar Jaka Samudra
Didirikan2 Desember 2005
StadionStadion PetrokimiaKabupaten Gresik,Jawa TimurIndonesia
(Kapasitas: 25.000)
Ketua UmumH. Saiful Arif
ManajerBendera Indonesia Bagoes Cahyo Yuwono
PelatihBendera Indonesia Liestiadi
LigaIndonesia Soccer Championship

Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga
Gresik United
Persegres Gresik United (dulu Petrokimia Gresik dan Gresik United sebelum gabung) adalah sebuah klub sepak bolaIndonesia yang bermarkas di GresikJawa Timur. Klub yang dikenal dengan julukan Laskar Joko Samudro / Kebo Giras ini memiliki kelompok pendukung fanatik bernama Ultras GresikRusa Bawean adalah hewan atau fauna identitas Kabupaten Gresik. Seluruh partai kandang Gresik United dimainkan di Stadion Petrokimia.
Klub ini didirikan pada tanggal 2 Desember 2005 sebagai hasil penggabungan dari bekas tim Divisi UtamaPetrokimia Gresik, dengan tim Divisi IIPersegres Gresik United dan saat ini juga mereka berusaha mati-matian agar tetap bertahan di Divisi Utama.

Sejarah

Petrokimia

Awalnya Petrokimia Putra Gresik didirikan pada Jumat 20 Mei 1988 oleh pihak manajemen PT. Petrokimia Gresik. Sejak berdiri hingga sekarang, klub yang didanai pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik tersebut telah lebih dari 15 tahun berkiprah diDivisi Utama Liga Indonesia. Banyak klub besar di Indonesia yang pernah satu kelas dengan Petro Putra kini tinggal nama alias almarhum. Misalnya, Bandung Raya BandungNiac Mitra SurabayaWarna Agung Jakarta, Assyabaab Surabaya, Perkesa, BPD Jateng, dan lain-lain.
Setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa dicatat dalam perjalanan Petro Putra di dunia persepak bolaan nasional. Kiprah perdana klub ini mengikuti kompetisi pada era Galatama 1988-89. Ketika itu, kompetisi sepak bola secara nasional ada dua kutub besar. Yakni, Galatama yang diikuti klub-klub semiprofesional dan perserikatan yang diikuti klub yang didanai dan dikelola Pemda.
Ketika kali pertama masuk Galatama, sebenarnya di Gresik ada klub perserikatan yang bertengger di Divisi Utama Perserikatan, yakni Persegres. Bahkan, sebagian pemain Petro Putra angkatan pertama adalah alumni Persegres. Ketika itu, antusiasme warga Gresik lebih condong ke Persegres daripada ke Petro Putra. Beberapa pemain angkatan pertama Petro Putra yang alumni Persegres, antara lain Sasono Handito (kiper), Ferril Raymond Hattu, Rubianto, Reno Latupeirissa, Karyanto, Abdul Muis, Masrukan, Lutfi, Hasan Maghrobi, Derry Krisyanto, dan lain-lain. Mereka di bawah pelatih Bertje Matulapelwa dengan asisten pelatih Hendrik Montolalu dan Slamet Haryono. Hendrik merupakan mantan kiper Niac MitraSurabaya.
Skuat Petrokimia musim 1994-95
Saat Liga Indonesia pertama digelar pada 1994-95, Petrokimia Putra oleh banyak kalangan diberi gelar “juara tanpa mahkota”. Sebab, di partai final Liga Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Petro yang saat itu di bawah besutan pelatih Andi Muhammad Teguh dengan asisten pelatih Ferril Raymond Hattu dan Bambang Purwanto kalah dari Persib Bandung dengan skor 0-1. Padahal, dalam pertandingan tersebut, Petro memasukkan gol lebih dulu melalui kaki Jacksen F. Tiago. Namun, dianulir wasit tanpa alasan jelas.
Kiprah Petro Putra saat itu memang luar biasa. Petro ketika itu mendatangkan tiga pemain asing, yakni Derryl Sinnerine asal Trinidad and Tobago. Posisinya sebagai kiper. Lalu Carlos de Mello di posisi playmaker dan Jacksen F. Tiago sebagai striker. Selain Jacksen dan Carlos, tim Petro melahirkan banyak bintang baru, seperti Widodo Cahyono PutroEri Irianto, dan Suwandi HS. Ketiganya kemudian jadi langganan masuk pelatnas PSSI.
Melalui perjalanan panjang, Petro berhasil menjadi jawara Liga Indonesia 2002. Prestasi tersebut mendobrak hegemoni klub klub kotabesar di deretan utama persepak bolaan nasional. Biasanya jawara liga direbut tim-tim dari kota-kota besar dan secara tradisional memiliki kiprah dan prestasi sepak bola yang melegenda. Misalnya, Persebaya SurabayaPersib BandungPSIS SemarangPersija Jakarta, maupun PSM Makassar.
Berbeda dengan Liga Indonesia 1994-95 yang menghasilkan kekecewaan mendalam bagi Petro, pada Liga Indonesia 2002 Petro dinaungi oleh dewi fortuna. Setelah di penyisihan menjadi kampiun Wilayah Timur, Skuat yang ditukangi Sergei Dubrovin ini sempat berada di ujung tanduk dalam babak delapan besar Grup K yang digelar di kandang sendiri. Menang 3-0 dari Arema pada pertandingan pembuka, Petro ditaklukkan oleh Persipura Jayapura 0-1. Dalam laga penentuan Petro kembali takluk dari Persita 0-1, sehingga mereka tinggal berharap Persipura Jayapura dapat dikalahkan oleh Arema dengan skor tipis. Harapan mereka terkabul, gol Khusnul Yuli ke gawang Persipura Jayapuramembawa Petro ke semifinal.
Prestasi
  • Liga Indonesia 1994/1995 : Runer Up Divisi Utama (Juara Wilayah Timur)
  • Liga Indonesia 1995/1996 : Peringkat 8 Wilayah Timur Divisi Utama
  • Liga Indonesia 1996/1997 : Peringkat 6 Wilayah Timur Divisi Utama
  • Liga Indonesia 1997/1998 : Peringkat 9 Wilayah Timur Divisi Utama (Liga dihentikan)
  • Liga Indonesia 1998/1999 : Sepuluh Besar Divisi Utama (Peringkat 2 Grup B)
  • Liga Indonesia 1999/2000 : Peringkat 10 Wilayah Timur Divisi Utama
  • Liga Indonesia 2001 : Peringkat 6 Wilayah Timur Divisi Utama
  • Liga Indonesia 2002 : Juara Divisi Utama (Juara Wilayah Timur)
  • Liga Indonesia 2003 : Peringkat 18 Divisi Utama (Degradasi)
  • Liga Indonesia 2004 : Peringkat 5 Wilayah Barat Divisi I
  • Liga Indonesia 2005 : Peringkat 14 Wilayah Timur Divisi Utama (Degradasi)Prestasi Lainnya:
  • Masuk 16 besar/putaran 3 Piala Winners Asia tahun 1995/1996
  • Liga Champions AFC tahun 2002/2003 sampai dengan putaran kedua.
  • Liga Super Indonesia 2013 : Posisi 9
  • Piala Gubernur Jatim 2014 : Runer Up Piala Gubernur Jatim

Madura United

Nama lengkapMadura United Football Club
JulukanLaskar Sapeh Kerrab
Didirikan1970 (sebagai Pelita Jaya)
2015 (merger denganBandung Raya)
12 April 2015 merger dengan Persipasi Bekasi
10 Januari 2016 diakuisisi menjadi Madura United
StadionStadion Gelora Bangkalan,
BangkalanMaduraIndonesia
(Kapasitas: 30.000)
ManajerHaruna Soemitro
PelatihMário Gomes de Olivera
Asisten PelatihWinedy Purwito
LigaIndonesia Soccer Championship
Kostum kandang
Kostum tandang
Madura United FC merupakan klub sepak bola asal Indonesia yang berbasis di BangkalanMadura. Klub ini sebelumnya bernamaPersipasi Bandung Raya yang merupakan hasil penggabungan dari Persipasi Bekasi dengan Pelita Bandung Raya yang belaga di Liga Super Indonesia. Pemilik Persipasi Bandung Raya, Ari D. Sutedi akhirnya menjual klubnya ke Achsanul Qosasi, dan kemudian bertransformasi menjadi Madura United FC.

Prestasi

Galatama

  • 1986/1987 : Runner-up
  • 1987/1988 : Runner-up
  • 1988/1989 : Juara
  • 1990 : Juara

Liga Indonesia

  • 1994/95 : Delapan Besar
  • 2008/09 : Delapan Besar
  • 2009/10 : Peringkat 15
  • 2010/11 : Peringkat 13
  • 2013/14 : Peringkat 4
  • 2014/15 : " SemiFinalis
  • Indonesia Super League U-21
    • juara: 2008–2009
    • Runner-up: 2009–10
    • Third-place: 2012

National cups

  • Piala Utama
    • juara: 1992
    • Runner-up: 1990
  • Piala Liga
    • Runner-up (3): 1987, 1988, 1989